Selamat Datang, Terimakasih Atas KunjungannyaBeranda
Joko Skul narni sun-sun pemda bjr p4tk mtk
smp satui sulistiana fadjar pwr smp1 wno sumarna
Kamis, 26 Juni 2008

MENGUBAH PARADIGMA

secara naluriah, manusia akan selalu merasa kekurangan. Kekurangan dalam segala hal tentunya. Orang yang sudah mempunyai harta seratus juta, tentu masih berangan-angan, bagaimana seandainya ia mempunyai harta 1 miliar. Orang yang mempunyai 1 miliar suatu saat berangan-angan bagaimana seandainya ia mempunyai uang 10 miliar dan seterusnya. Demikian juga ketika seorang belum mempunyai kendaraan, maka ia berangan-angan bagaimana enaknya kalau ia mempunyai sebuah sepeda, pada saat ia telah mempunyai sebuah sepeda maka ia mengangankan sebuah sepeda motor, mobil dan seterusnya. Demikian juga seorang wanita yang diciptakan dengan lengkap, suatu saat pasti mengangankan bagaimana seandainya hidungnya lebih mancung, rambutnya lebih tebal, kulitnya lebih putih dan seterusnya.
Sifat merasa selalu kurang, pada dasarnya melingkupi semua manusia, tidak peduli dari suku, agama, kewarganegaraan, pendidikan, kekerjaan dan latar belakang lainnya. “Rasa Kurang” ini dapat berakibat positif tetapi juga dapat berakibat negative bagi orang tersebut. Jika ia mampu memanfaatkan, maka “Rasa Kurang” tersebut dapat dijadikan sebagai pendorong semangat untuk berusaha lebih keras/lebih baik lagi. Namun jika tidak maka “Rasa Kurang” tersebut akan menyerang balik/menyebabkan hal negative bagi diri orang tersebut, misalnya perasaan menyesal, sedih, kecewa dan lain sebagainya.
Ada kalanya seseorang tidak mampu lagi berusaha dengan lebih baik atau tidak mampu lagi merubah keadaan. Jika hal ini berlangsung lama maka ia sendirilah yang akan mengalami kerugian. Dalam keadaan demikian, hal yang paling mungkin dilakukan untuk mengatasi keadaan adalah merubah cara pandang. Misalnya seorang guru yang ditempatkan di daerah terpencil akan merasa sedih karena: jauh dari tempat tinggal, jauh dari pusat keramaian, jauh dari sumber informasi, pendapatan tambahan yang tidak ada, tidak pernah dipanggil penataran, sulit mengurus kenaikan pangkat dan masih banyak lagi. Tentu hal ini adalah hal yang menyedihkan bagi seorang guru yang ditempatkan di daerah terpencil/jauh dari kota. Guru tersebut tentu dapat berusaha untuk mengubah keadaan, namun hal itu bukanlah hal yang mudah.
Di lain pihak, guru yang bertugas di kota, di SMP faforitpun tidak kalah banyaknya keluhan yang ia sampaikan jika ia ditanya. Keluhan tersebut mulai dari banyaknya beban mengajar (termasuk jumlah murid yang besar mengakibatkan mengkoreksi ulangan harian pun menjadi beban yang berat), besarnya tuntutan melengkapi administrasi / persiapan pembelajaran (RPP, Silabus, Kisi-kisi dan lain-lain), siswa yang pintar dan kadang lebih dahulu tahu dari pada guru karena melimpahnya alternative sumber belajar yang menuntut guru untuk terus belajar serta masih banyak alasan lain yang menggambarkan betapa berat bebannya menjadi guru.
Memperhatikan keadaan di atas maka dapat diambil hipotesa bahwa tidak peduli di kota ataupun di desa, di SMP faforit maupun bukan, guru mempunyai banyak keluhan. Keluhan muncul karena adanya rasa kekurangan tentunya.
Dalam keadaan yang sudah sulit merubah keadaan, maka salah satu jalan yang dapat dilakukan adalah merubah cara pandang. Berikut ini ada sebuah kisah yang menggambarkan betapa merubah cara pandang mampu memberi arti banyak pada diri kita. Kisah ini berasal dari negeri cina, yang pernah say abaca suatu hari dahulu kala.

Al kisah di suatu desa tinggallah seorang Nenek tua yang telah tinggal sendirian. Sebenarnya ia mempunyai dua orang anak yang akan kita beri nama si sulung dan si bungsu. Kedua anaknya telah hidup terpisah bersama anak-istrinya masing-masing. Sebenarnya ia diminta untuk tinggal bersama dengan anak-anaknya, namun ia menolak dan lebih memilih tinggal sendirian.
Di dekat rumah nenek tua tersebut tinggalah seorang pemuda yang sedang menempuh pendidikan di ibu kota Cina tersebut. Pemuda tersebut mempunyai pengetahuan yang cukup mendalam tentang kehidupan. Sebenarnya ia berasal dari daerah yang sangat jauh, ia mengontrak kamar di daerah tersebut.
Hampir setiap hari, ia pulang melewati samping rumah Nenek tua. Ia sering mendengar suara tangisan/ratapan sedih dari dalam rumah. Pemuda tersebut tidak tahu nama nenek tersebut sebenarnya, karena sepanjang pengetahuannya orang-orang sekitar rumahnya menyebut nenek tersebut sebagai nenek sedih.
Seperti pada hari-hari sebelumnya, hari ini ia mendengar suara tangisan dari dalam rumah Nenek tersebut. Maka untuk mengobati rasa penasarannya ia pun singgah. Kebetulan hujannya makin lebat.
Pemuda : “ Permisi, ada siapa di rumah….?”
Nenek : “ O….silakan masuk”
Pemuda : “ Disini saja encik. Kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang membuat encik sering terdebgar menangis dan terlihat sedih….”
Nenek : “ O…itu to….. Oe sedih memikirkan anak oe…..”
Pemuda : “ Lhoh…memangnya ada apa dengan anak encik?....saya dengar mereka sudah berkeluarga dan mempunyai usaha sendiri-sendiri…..?”
Nenek : “ Ia…..kalau hari hujan seperti ini saya sedih memikirkan usaha sisulung, pasti dagangannya tidak laku, bagaimana ia menghidupi anak-istrinya….?”
Pemuda : “ Memangnya kalau boleh tahu apa usaha si sulung, encik….?”
Nenek : “ …O…ia berjualan es…..”
Pemuda : “…O…Terus kemarin ketika hari tidak hujan, mengapa encik juga menangis…..?”
Nenek : “…..O…..Oe sedih memikirkan usaha si bungsu, kalau harinya panas begitu pasti daganganya ndak ada yang beli….saya jadi sedih….”
Pemuda : “ Memengnya apa yang dijual sibungsu….kok kalau harinya panas jadi tidak laku…??”
Nenek : “ Ia berjualan payung ……..”
Pemuda : “ Ooooooooooo….”
Pemuda tersebut manggut-manggut. Sejurus kemudian keduanya termenung. Pemuda berusaha menyelami kesusuahan yang di alami Nenek tua tersebut, sedangkan Nenek tua melanjutkan kesedihannya. Pemuda tersebut berusaha mencari cara membantu si Nenek tua. Tiba-tiba setelah agak lama termenung, si pemuda tersebut tertawa-tawa. Si Nenek tua pun bingung dan agak tersinggung dan marah karena menyangka pemuda tersebut mentertawakan nasib anak-anaknya.
Nenek : “ Mengapa kamu malah mentertawakan nasib anak-anakku….. pulang sana …. Kamu tidak sopan jadi orang ….. sana pulang….!!!”
Pemuda : “ Sabar dulu encik……saya tidak mentertawakan encik maupun anak-anak encik….saya tahu jalan keluarnya.”
Nenek :“ Jangan bercanda anak muda…..kamu saja belum bekerja, bagaimana kamu bias membantu anak-anakku…..?”
Pemuda :“ …………..begini encik……saya memang tidak mampu membantu dalam bentuk uang atau barang…….tapi coba dengar dulu….”
Nenek : “ …..Apa maksud mu….?”
Pemuda : “ Begini…..sebenarnya caranya gampang……encik kalau hari hujan, encik memikirkan si bungsu saja. Pasti kalau hujan payungnya banyak yang beli…..nah kalau harinya panas…encik memikirkan sisulung….pasti esnya banyak laku…..”
Nenek tersebut terdiam sebentar. Tiba-tiba dimulutnya tersungging sebuah senyuman walaupun masih samara-samar. Pemuda tersebut berharap nenek tersebut benar-benar paham apa yang ia maksud, dan berharap kemudian hari ia tidak lagi disebut sebagai nenek sedih. Sesaat kemudian pemuda tersebut meminta diri untuk pulang karena hujan juga sudah reda. Nenek tua tersebut mengantarkan sampai pintu. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih. Kali ini wajahnya sudah dihiasi senyuman yang lumayan cerah secerah langit yang telah bersih dari awan.

Demikan cerita saya, mudah-mudahan dapat berguna bagi kita semua.

…,,,,FHS,,,,…

2 komentar:

taufik79 mengatakan...

salam kenal aja

suhadinet mengatakan...

Herry said:
===============
Sifat merasa selalu kurang, pada dasarnya melingkupi semua manusia, tidak peduli dari suku, agama, kewarganegaraan, pendidikan, kekerjaan dan latar belakang lainnya. “Rasa Kurang” ini dapat berakibat positif tetapi juga dapat berakibat negative bagi orang tersebut. Jika ia mampu memanfaatkan, maka “Rasa Kurang” tersebut dapat dijadikan sebagai pendorong semangat untuk berusaha lebih keras/lebih baik lagi. Namun jika tidak maka “Rasa Kurang” tersebut akan menyerang balik/menyebabkan hal negative bagi diri orang tersebut, misalnya perasaan menyesal, sedih, kecewa dan lain sebagainya.
Ada kalanya seseorang tidak mampu lagi berusaha dengan lebih baik atau tidak mampu lagi merubah keadaan. Jika hal ini berlangsung lama maka ia sendirilah yang akan mengalami kerugian. Dalam keadaan demikian, hal yang paling mungkin dilakukan untuk mengatasi keadaan adalah merubah cara pandang.
==========
Makasih Her, aku catat itu baik-baik.

Related Posts with Thumbnails
Ini adalah Contoh Menu, Bukan menu sebenarnya. Ini adalah bagian/ilustrasi dari posting Saya


Profile Visitor Map - Click to view visits
Mau? Klik Ini
javascript:void(0)